Ayahmu barangkali bukan ayah yg terbaik di dunia, tetapi dia selalu berusaha melakukan dan memberi segala hal yg terbaik untukmu —sejauh yg dia bisa

Fahd Djibran, Semesta Sebelum Dunia (via aifyzulfaa)

Godlob

Kulihat di kerontang padang
Gugusan Gagak hitam membelah  angkasa
menebar bau kematian maha dahsyat
pada tiap jiwa yang terkapar sekarat

Nyaring dendang senandung kematian
ditelinga para pejuang
dari kawanan setan maut bertebaran
yang menari mencabik sisa-sisa pengharapan

Sedang orang tua itu melangkah 
bersama gerobak usang  dan kerbau legam
menengok satu satu mayat yang tergolek lemah
lalu mengangkat sesosok yang ia kenal

“Anakku, berhentilah jadi pesakitan”
terdengar bentakkan
dari kerongkongan orang tua itu
sedang yang dibentak acuh tak hiraukan
Ingatkah kau sajak politikus?
“Oh, bunga penyebar bangkai
Di sana, di sana, pahlawanku tumbang mewangi..”
dalam kebisuan orang tua itu terus bernyanyi
syair-syair yang ia puja sepanjang hari

           
anaknya tetap bungkam
ringkih tak tertahankan
“cukup ayah”
“seharusnya keluarga kita berbangga”
suaranya keluar dipaksakan
kenangannya kembali ke sepersejuta waktu lalu
pertumpahan darah keluarga
peperangan susul menyusul
sodaranya mati satu-satu
di medan laga tempat ia tersungkur

Sang Ayah tak mau tahu lagi
tertawa bak setan yang lupa diri
ia renggut roda takdir buah hati
belati ia tusuk ke ulu hati
berhari hari yang ia nanti
si sulung mati di tangan sendiri
demi kepuasan ambisi
jadikan anaknya pahlawan negeri

pagi kelam dipenuhi laut tangisan
dari jutaan insan yang kehilangan
di pemakaman kota pesakitan
para petinggi mengulum senyum
berkata
ia bangga pada pemuda yang berperang
pada mayat-mayat yang terkubur beriring kehormatan
pada bedil yang dilecutkan tuk cipta kedamaian

Di tengah bualan kosong itu, Sayang
terlihat ibu pertiwi sedang membopong pahlawannya
menggali mayat anak dari gundukan makam


sang petinggi dibekap penasaran
menatap ibu tua dan suaminya

Wanita itu datang bersama penjelasan
berkata mayat pucat yang ia bopong
bukan pahlawan negeri
ia mati ditikam nafsu ayah sendiri
pemuja kehormatan
yang kini menunduk mengenang nasibnya sendiri

tak sudi laki-laki tua
mengedarkan pandang pada petinggi
sedang petinggi rasa ia dikhianati
mencabik hati laki-laki tua
yang ia anggap sampah rakyat
atas bualan-bualannya pada negeri

Perang kata tak dapat dihindari
antara laki-laki tua serta petinggi
sama-sama cakap tentang keadilan
keadilan apa yang mereka harapkan?
bila keadilan di lapisi dusta

Wanita tak sanggup gunakan hati
banyak rayu setan yang hampiri
bedil ia cabut
lalu tembakkan pada sang suami
habis
putus
rampung
segala dusta dari dua mulut
rentetan tangis rakyat
sudah ku akhiri semua
wanita dengan bedil ditangan

kaeruz:

Kemudian aku mengerti ke mana perginya waktu

Tidak, aku tidak menyalahkanmu

Ini salahku karena terlalu sibuk berharap padamu

Kemudian aku secuil demi secuil hancur

Tidak, aku tidak menyalahkanmu

Ini salahku karena tak berani jujur

wes to. cukup sampek kene kan?
sip. please go far away from my life as soon as (y)
Can we fall, one more time?
Stop the tape and rewind
Oh and if you walk away I know I’ll fade
‘Cause there is nobody else
It’s gotta be you
Only you